Tips Menghadapi dan Mengerjakan Psikotes

by Helmi Fauziridwan | 0 komentar


Tips Menghadapi dan Mengerjakan Psikotes


Psikotes kerja merupakan salah satu faktor yang akan menghambat para pelamar kerja, karena tes ini akan menjadi tahapan akhir yang harus dikerjakan sebagai tumpuan sebuah perusahaan atau instansi yang lain untuk memutuskan apakah para pelamar kerja akan diterima atau tidak.

Agar bisa dengan mudah lolos psikotes, Anda harus mempersiapkan fisik dan mental disamping memperbanyak latihan mengerjakan soal psikotes.

Berikut adalah beberapa tips mengerjakan soal psikotes.
  1. Siapkan kepercayaan diri Anda.
  2. Istirahatlah yang cukup agar kondisi segar dan tidak tegang saat mengerjakan psikotes. 
  3. Perhatikan dengan cermat semua instruksi yang ada sebelum ujian psikotes dikerjakan. 
  4. Kerjakan dahulu soal secara berurutan dari soal pertama dan seterusnya. Bila terdapat soal yang mudah, kerjakan dahulu agar penggunaan waktu lebih efisien. Jangan terjebak pada soal yang sulit. Lompati dan kerjakan soal yang awalnya lainnya yang lebih mudah. 
  5. Jika memiliki waktu banyak setelah semua soal selesai dikerjakan, periksa kesesuaian jawaban Anda dengan petunjuk dan instruksi. 

Materi referensi: Dirangkum dari berbagai sumber.
Selengkapnya...

Jenis-Jenis Tes dalam Psikotes: Kraepelin, Logika Aritmatika, Logika Penalaran, Analog Verbal

by Helmi Fauziridwan | 0 komentar


Beberapa tes yang sering ada dalam psikotes adalah:
  1. Tes Logika Aritmatika
  2. Tes Logika Penalaran
  3. Tes Analog Verbal
  4. Tes Kraepelin

Tes Logika Aritmatika
Dalam tes logika aritmatika akan disajikan beberapa deret angka. Penilaian yang akan diukur adalah kemampuan dalam menganalisis dan memahami beberapa pola. Berdasarkan pola tersebut Anda akan memprediksikan hal lainnya.

Tips menghadapi tes Logika Aritmatika:
Jangan terpaku pada deret hitung ataupun deret ukur perhitungan matematika saja. Sebaiknya Anda melihat deret angka secara keseluruhan, sebab bisa saja pola berupa urutan angka, pengelompokan berurutan atau pengelompokan loncat.


Tes Logika Penalaran
Tes logika penalaran  terdiri dari beberapa deret gambar baik 2 maupun 3 dimensi. Penilaian yang diukur dalam tes logika penalaran adalah  kemampuan Anda dalam memahami setiap pola atau kecenderungan dalam bentuk gambar yang mana dengan melakukan prediksi berdasarkan pola pada gambar-gambar tersebut.

Tips menghadapi tes Logika Penalaran
Anda harus memiliki konsentrasi yang tinggi, berhati-hati dan lebih teliti dalam melihat gambar. Ada kalanya bentuk yang disajikan akan lebih serupa walaupun bentuk tersebut tidak sama.


Tes Analog Verbal
Tes Analog Verbal terdiri dari sinonim, antonim atau analog suatu kata atau kalimat. Penilaian yang diukur dalam tes analog verbal adalah kemampuan logika terhadap sebuah kondisi, dan kemampuan dalam memahami sebab dan akibat terjadinya suatu masalah.

Tips menghadapi tes Analog Verbal
Logika dan konsentrasi menjadi kunci dalam mengatasi tes analog verbal.


Tes Kraepelin
Tes Kraepelin berupa gugusan beberapa angka yang telah tersusun secara membujur vertikal dalam bentuk lajur-lajur. Anda diharuskan menjumlahkan kedua angka yang berdekatan dan menuliskan hasil penjumlahan di sampingnya.


Tips menghadapi tes Kraepelin
Yang menjadi penilaian dalam tes Kraepelin adalah konsistensi, ketahanan, sikap tahan terhadap tekanan, kemampuan menyesuaikan diri, ketelitian dan kecepatan dalam mengerjakan suatu hal.


Materi referensi : Dirangkum dari berbagai sumber.

Selengkapnya...

Saran Bagi Pencari Kerja dalam Persaingan di Dunia Kerja Bagian 2 (Dikutip dari Buku Job Seeking Undercover)

by Helmi Fauziridwan | 2 komentar


Lanjutan artikel Saran Bagi Pencari Kerja dalam Persaingan di Dunia Kerja Part 1

Nilai plus dapat berupa: Pertama, penampilan yang meyakinkan, penuh percaya diri, dan mampu mengundang simpati. Dengan kata lain, mampu menunjukkan kepribadian yang kuat. Kedua, memiliki kecakapan khusu seperti penguasaan bahasa asing, komputer,atau kecakapan lain yang menunjang atau memenuhi kebutuhan/tuntutan pasar kerja. Keempat, pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kemudian para pencari kerja harus siap di segala sektor, harus bersedia dan mampu ditempatkan di bagian apa saja, siap ke luar daerah atau luar pulau bahkan luar negeri karena biasanya pencari kerja berjubel di kota-kota besar yang sudah padat dan sarat dengan penganggur. Sebagai strategi atau kiat menerobos dunia kerja, kita harus jeli mengantisipasi lowongan, mengukur kemampuan, tidak menuntut gaji terlalu tinggi, bersedia ditempatkan di mana saja, juga memenuhi persyaratan lamaran kerja.

Mengenai lamaran kerja yang tak terbalas atau tanpa berita, memang bukanlah hal yang mengherankan. Sekarang ini, banyak perusahaan yang melaksanakan penghematan di segala bidang termasuk tidak mau repot membuang perangko untuk membalas surat-surat lamaran yang ratusan jumlahnya. Namun, surat lamaran yang menarik pasti mendapat perhatian dan tak akan dibuang. Karena itu, surat lamaran perlu dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai daya tarik pada pandangan pertama. Kesan pertama sangat menentukan, baik surat maupun penampilan dan sikap pada waktu wawancara.

Saat penantian atau sebelum berhasil mendapatkan pekerjaan, kita perlu mengisi waktu dengan berbagai upaya. Jangan sekali-kali menganggur. Tingkatkan kemampuan dengan mengembangkan wawasan, misalnya mengikuti berbagai pelatihan atau seminar. Bagi yang mampu dan memungkinkan bisa pula melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang lain bisa mencoba berwiraswasta karena kita harus alih profesi bila perlu.

Selama memiliki kemampuan lebih untuk bersaing dalam dunia kerja, apa pun bentuk kebijakan pemerintah mengenai tenaga kerja, tidak akan memengaruhi kerja kita karena kita siap menghadapi perubahan yang terjadi. Janganlah terlalu pusing memikirkan lapangan pekerjaan, tetap yang harus dipikirkan mulai dari sekarang adalah sudah siapkah saya bekerja? ***

Dikutip langsung dari buku Job Seeking Undercover (2011)

Selengkapnya...

Saran Bagi Pencari Kerja dalam Persaingan di Dunia Kerja Bagian 1 (Dikutip dari Buku Job Seeking Undercover)

by Helmi Fauziridwan | 0 komentar


Artikel Kesempatan Kerja di Masa Mendatang memaparkan problema tenaga kerja di Indonesia di era globalisasi. Dewasa ini ada kecenderungan meningkatnya pengangguran yang berasal dari angkatan kerja berpendidikan tinggi. Selain tidak terserapnya tenaga kerja akibat menurunnya daya serap sektor industri dan sulitnya kesempatan kerja di sektor pertanian dan jasa, masalah ketenagakerjaan lainnya diakibatkan oleh kurikulum pendidikan yang tidak dirancang untuk mencetak tenaga-tenaga kerja terampil siap pakai sesuai kebutuhan industri atau sektor-sektor yang ada.

Setidaknya ada tiga faktor:
1. Jumlah peluang kerja yg tidak sebanyak jumlah pencari kerja.
2. Lulusan institusi pendidikan baru siap tahu, belum siap kerja.
3. Rekrutmen karyawan tidak lagi berdasarkan IQ, tetapi EQ dan bahkan SQ, seperti faktor kepribadian, kematangan emosi, dan kemantapan spiritual.

Selengkapnya silakan baca artikel Kesempatan Kerja di Masa Mendatang berikut.

Dilihat dari struktur, angkatan kerja di Indonesia masih didominasi oleh penduduk usia yang berpendidikan rendah dan juga berketerampilan rendah. Namun dilihat dari profil mereka yang menganggur, ada kecenderungan dalam beberapa tahun terakhir jumlah penganggur dengan jenjang pendidikan lebih tinggi semakin meningkat.

Dalam beberapa kasus kondisi ini sering dikaitkan dengan kurikulum pendidikan di Indonesia yang memang tidak dirancang atau diarahkan secara khusus untuk mencetak tenaga-tenaga kerja terampil siap pakai sesuai kebutuhan industri atau sektor-sektor yang ada. Sebagian besar sekolah kejuruan yang ada juga sulit berkembang karena tidak adanya dukungan fasilitas dan anggaran yang memadai. Akibat dominasi tenaga kerja berpendidikan rendah ini, industri manufaktur yang berkembang juga cenderung hanya industri padat karya yang mengandalkan tenaga kerja murah, seperti industri tekstil (TPT), alas kaki, dan industri kayu.

Kondisi inilah yang dihadapi oleh para pencari kerja di Indonesia. Mereka harus bersaing dengan kondisi yang masih belum jelas keberpihakannya.

Bekerja bagi manusia adalah suatu kebutuhan, baik aktualisasi diri maupun untuk mengarungi kehidupan di dunia. Bekerja pada dasrnya adalah hal yang sangatlah mudah dilakukan oleh setiap orang. Melakukan aktivitas tertentu sudah termasuk di dalam kamus bekerja. Saat ini memang makin sulit mendapatkan pekerjaan. Mengapa? Ada banyak sebab. Pertama, jumlah peluang kerja yang ada tak berimbang dengan jumlah pencari pekerjaan. Kedua, kualitas lulusan sekarang hanya baru siap tahu dan belum siap pakai atau lebih tepat siap kerja. Ketiga, paradigma telah bergeser. Rekrutmen tidak lagi atas dasar IQ, tetapi juga EQ, bahkan sekarang faktor SQ. Faktor kepribadian, kematangan emosi dan spiritual ikut menjadi pertimbangan. Perlu diketahui bahwa gelar tidak lagi menjamin untuk mendapatkan pekerjaan. Ya, gelar bukanlah tiket menuju dunia kerja.

Bahkan, posisi tawar (bargaining position) lulusan sekolah menengah saat ini kecil sekali, bahkan nyaris tak ada. Banyak lulusan SMA yang bersedia bekerja apa saja dengan gaji seadanya. Walau mau bekerja apa pun, tetap saja mereka menemukan persaingan dunia kerja yang amat tinggi. Namun, mereka pantang menyerah. Hal ini tidak berbeda  dengan para lulusan sarjana. Mereka kurang memiliki nilai plus untuk menaikkan posisinya dalam mencari pekerjaan. Saya mengambil teori dari salah satu blog bahwa kita harus memiliki 'nilai plus' sebagai syarat untuk memenangi peluang kerja.

bersambung...

Dikutip langsung dari buku Job Seeking Undercover (2011) 

Selengkapnya...

Hutan Indonesia Rusak Akibat Pembukaan Lahan Perkebunan Sawit yang Tidak Sesuai Aturan

by Helmi Fauziridwan | 0 komentar


Dikutip langsung dari buku Merampok Hutan dan Uang Negara (2011)

Perkebunan sawit menghambat upaya mengurangi emisi gas karbon

Indonesia berada pada urutan ke-8 dari 10 negara dengan luas hutan alam terbesar di dunia. Sumberdaya hutan yang luas ini tentu merupakan aset Negara yang hendaknya dijaga kelestariannya dan dikelola pemanfaatannya sehingga tidak terjadi pembongkaran hutan yang bersifat destruktif, meskipuwm pada prakteknya berdasarkan data FAO (2005) Indonesia termasuk lima besar Negara yang tutupan hutannya berkurang paling cepat dengan tingkat deforestasi selama tahun 2000-2005 mencapai 1.87 juta  Ha/Tahun dan 2006-2009 mencapai 1.5 juta Ha/Tahun. 

Faktor utama yang mengakibatkan kerusakan hutan Indonesia yaitu alih fungsi hutan untuk kegiatan di luar sektor kehutanan diantaranya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit. Pesatnya ekspansi perkebunan sawit yang menggunakan area hutan, baik itu hutan primer ataupun sekunder, telah menimbulkan berbagai dampak negatif.

Ekspansi perkebunan sawit ini berkontribusi terhadap rusaknya ekosistem hutan, degradasi lahan gambut, punahnya keanekaragaman hayati dan bermunculannya berbagai  macam masalah sosial. Berdasarkan data Walhi Kalbar (2010) selama 13 tahun terakhir telah terjadi 6.632 bencana ekologi dan 630 konflik lahan terkait perkebunan sawit (Sawit Watch, 2010).

Rusaknya hutan akibat pembukaan lahan perkebunan sawit ini terjadi karena cara yang paling sering ditempuh para pengusaha perkebunan sawit untuk memenuhi kebutuhan lahannya adalah melakukan tebang bersih lahan meskipun belum mendapat Ijin Pelepasan Kawasan Hutan (IPKH) dan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK). Cara ini dipandang lebih mudah dan pengusaha dapat memperoleh modal awal dari keuntungan hasil tebangan kayu ilegal ini untuk memulai operasi perkebunannya.

Dalam pelaksanaan kebijakan PKH, para pengusaha perkebunan yang mengajukan IPKH ini banyak yang tidak memanfaatkan lahan secara optimal dan bahkan lahan tersebut ditelantarkan, akibatnya area hutan yang hilang lebih besar dari perkebunan yang menggantikan area tersebut. Praktek ini mengindikasikan bahwa mengkonversi area berhutan menjadi kebun sawit seringkali didorong karena nafsu untuk mendapatkan rente ekonomi dari kayu yang dipanen daripada keinginan serius untuk membangun perkebunan kelapa sawit.

Selengkapnya...


Komentar Terbaru

Pedialicious

 

Bacaan Favorit | Dark Background Modified by Helmi Fauziridwan Best viewed with Firefox, Copyright © 2011-2014 LKart Theme is Designed by Lasantha