Saran Bagi Pencari Kerja dalam Persaingan di Dunia Kerja Bagian 2 (Dikutip dari Buku Job Seeking Undercover)

by Helmi Fauziridwan | 0 komentar


Lanjutan artikel Saran Bagi Pencari Kerja dalam Persaingan di Dunia Kerja Part 1

Nilai plus dapat berupa: Pertama, penampilan yang meyakinkan, penuh percaya diri, dan mampu mengundang simpati. Dengan kata lain, mampu menunjukkan kepribadian yang kuat. Kedua, memiliki kecakapan khusu seperti penguasaan bahasa asing, komputer,atau kecakapan lain yang menunjang atau memenuhi kebutuhan/tuntutan pasar kerja. Keempat, pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kemudian para pencari kerja harus siap di segala sektor, harus bersedia dan mampu ditempatkan di bagian apa saja, siap ke luar daerah atau luar pulau bahkan luar negeri karena biasanya pencari kerja berjubel di kota-kota besar yang sudah padat dan sarat dengan penganggur. Sebagai strategi atau kiat menerobos dunia kerja, kita harus jeli mengantisipasi lowongan, mengukur kemampuan, tidak menuntut gaji terlalu tinggi, bersedia ditempatkan di mana saja, juga memenuhi persyaratan lamaran kerja.

Mengenai lamaran kerja yang tak terbalas atau tanpa berita, memang bukanlah hal yang mengherankan. Sekarang ini, banyak perusahaan yang melaksanakan penghematan di segala bidang termasuk tidak mau repot membuang perangko untuk membalas surat-surat lamaran yang ratusan jumlahnya. Namun, surat lamaran yang menarik pasti mendapat perhatian dan tak akan dibuang. Karena itu, surat lamaran perlu dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai daya tarik pada pandangan pertama. Kesan pertama sangat menentukan, baik surat maupun penampilan dan sikap pada waktu wawancara.

Saat penantian atau sebelum berhasil mendapatkan pekerjaan, kita perlu mengisi waktu dengan berbagai upaya. Jangan sekali-kali menganggur. Tingkatkan kemampuan dengan mengembangkan wawasan, misalnya mengikuti berbagai pelatihan atau seminar. Bagi yang mampu dan memungkinkan bisa pula melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang lain bisa mencoba berwiraswasta karena kita harus alih profesi bila perlu.

Selama memiliki kemampuan lebih untuk bersaing dalam dunia kerja, apa pun bentuk kebijakan pemerintah mengenai tenaga kerja, tidak akan memengaruhi kerja kita karena kita siap menghadapi perubahan yang terjadi. Janganlah terlalu pusing memikirkan lapangan pekerjaan, tetap yang harus dipikirkan mulai dari sekarang adalah sudah siapkah saya bekerja? ***

Dikutip langsung dari buku Job Seeking Undercover (2011)

Selengkapnya...

Saran Bagi Pencari Kerja dalam Persaingan di Dunia Kerja Bagian 1 (Dikutip dari Buku Job Seeking Undercover)

by Helmi Fauziridwan | 0 komentar


Artikel Kesempatan Kerja di Masa Mendatang memaparkan problema tenaga kerja di Indonesia di era globalisasi. Dewasa ini ada kecenderungan meningkatnya pengangguran yang berasal dari angkatan kerja berpendidikan tinggi. Selain tidak terserapnya tenaga kerja akibat menurunnya daya serap sektor industri dan sulitnya kesempatan kerja di sektor pertanian dan jasa, masalah ketenagakerjaan lainnya diakibatkan oleh kurikulum pendidikan yang tidak dirancang untuk mencetak tenaga-tenaga kerja terampil siap pakai sesuai kebutuhan industri atau sektor-sektor yang ada.

Setidaknya ada tiga faktor:
1. Jumlah peluang kerja yg tidak sebanyak jumlah pencari kerja.
2. Lulusan institusi pendidikan baru siap tahu, belum siap kerja.
3. Rekrutmen karyawan tidak lagi berdasarkan IQ, tetapi EQ dan bahkan SQ, seperti faktor kepribadian, kematangan emosi, dan kemantapan spiritual.

Selengkapnya silakan baca artikel Kesempatan Kerja di Masa Mendatang berikut.

Dilihat dari struktur, angkatan kerja di Indonesia masih didominasi oleh penduduk usia yang berpendidikan rendah dan juga berketerampilan rendah. Namun dilihat dari profil mereka yang menganggur, ada kecenderungan dalam beberapa tahun terakhir jumlah penganggur dengan jenjang pendidikan lebih tinggi semakin meningkat.

Dalam beberapa kasus kondisi ini sering dikaitkan dengan kurikulum pendidikan di Indonesia yang memang tidak dirancang atau diarahkan secara khusus untuk mencetak tenaga-tenaga kerja terampil siap pakai sesuai kebutuhan industri atau sektor-sektor yang ada. Sebagian besar sekolah kejuruan yang ada juga sulit berkembang karena tidak adanya dukungan fasilitas dan anggaran yang memadai. Akibat dominasi tenaga kerja berpendidikan rendah ini, industri manufaktur yang berkembang juga cenderung hanya industri padat karya yang mengandalkan tenaga kerja murah, seperti industri tekstil (TPT), alas kaki, dan industri kayu.

Kondisi inilah yang dihadapi oleh para pencari kerja di Indonesia. Mereka harus bersaing dengan kondisi yang masih belum jelas keberpihakannya.

Bekerja bagi manusia adalah suatu kebutuhan, baik aktualisasi diri maupun untuk mengarungi kehidupan di dunia. Bekerja pada dasrnya adalah hal yang sangatlah mudah dilakukan oleh setiap orang. Melakukan aktivitas tertentu sudah termasuk di dalam kamus bekerja. Saat ini memang makin sulit mendapatkan pekerjaan. Mengapa? Ada banyak sebab. Pertama, jumlah peluang kerja yang ada tak berimbang dengan jumlah pencari pekerjaan. Kedua, kualitas lulusan sekarang hanya baru siap tahu dan belum siap pakai atau lebih tepat siap kerja. Ketiga, paradigma telah bergeser. Rekrutmen tidak lagi atas dasar IQ, tetapi juga EQ, bahkan sekarang faktor SQ. Faktor kepribadian, kematangan emosi dan spiritual ikut menjadi pertimbangan. Perlu diketahui bahwa gelar tidak lagi menjamin untuk mendapatkan pekerjaan. Ya, gelar bukanlah tiket menuju dunia kerja.

Bahkan, posisi tawar (bargaining position) lulusan sekolah menengah saat ini kecil sekali, bahkan nyaris tak ada. Banyak lulusan SMA yang bersedia bekerja apa saja dengan gaji seadanya. Walau mau bekerja apa pun, tetap saja mereka menemukan persaingan dunia kerja yang amat tinggi. Namun, mereka pantang menyerah. Hal ini tidak berbeda  dengan para lulusan sarjana. Mereka kurang memiliki nilai plus untuk menaikkan posisinya dalam mencari pekerjaan. Saya mengambil teori dari salah satu blog bahwa kita harus memiliki 'nilai plus' sebagai syarat untuk memenangi peluang kerja.

bersambung...

Dikutip langsung dari buku Job Seeking Undercover (2011) 

Selengkapnya...

Hutan Indonesia Rusak Akibat Pembukaan Lahan Perkebunan Sawit yang Tidak Sesuai Aturan

by Helmi Fauziridwan | 0 komentar


Dikutip langsung dari buku Merampok Hutan dan Uang Negara (2011)

Perkebunan sawit menghambat upaya mengurangi emisi gas karbon

Indonesia berada pada urutan ke-8 dari 10 negara dengan luas hutan alam terbesar di dunia. Sumberdaya hutan yang luas ini tentu merupakan aset Negara yang hendaknya dijaga kelestariannya dan dikelola pemanfaatannya sehingga tidak terjadi pembongkaran hutan yang bersifat destruktif, meskipuwm pada prakteknya berdasarkan data FAO (2005) Indonesia termasuk lima besar Negara yang tutupan hutannya berkurang paling cepat dengan tingkat deforestasi selama tahun 2000-2005 mencapai 1.87 juta  Ha/Tahun dan 2006-2009 mencapai 1.5 juta Ha/Tahun. 

Faktor utama yang mengakibatkan kerusakan hutan Indonesia yaitu alih fungsi hutan untuk kegiatan di luar sektor kehutanan diantaranya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit. Pesatnya ekspansi perkebunan sawit yang menggunakan area hutan, baik itu hutan primer ataupun sekunder, telah menimbulkan berbagai dampak negatif.

Ekspansi perkebunan sawit ini berkontribusi terhadap rusaknya ekosistem hutan, degradasi lahan gambut, punahnya keanekaragaman hayati dan bermunculannya berbagai  macam masalah sosial. Berdasarkan data Walhi Kalbar (2010) selama 13 tahun terakhir telah terjadi 6.632 bencana ekologi dan 630 konflik lahan terkait perkebunan sawit (Sawit Watch, 2010).

Rusaknya hutan akibat pembukaan lahan perkebunan sawit ini terjadi karena cara yang paling sering ditempuh para pengusaha perkebunan sawit untuk memenuhi kebutuhan lahannya adalah melakukan tebang bersih lahan meskipun belum mendapat Ijin Pelepasan Kawasan Hutan (IPKH) dan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK). Cara ini dipandang lebih mudah dan pengusaha dapat memperoleh modal awal dari keuntungan hasil tebangan kayu ilegal ini untuk memulai operasi perkebunannya.

Dalam pelaksanaan kebijakan PKH, para pengusaha perkebunan yang mengajukan IPKH ini banyak yang tidak memanfaatkan lahan secara optimal dan bahkan lahan tersebut ditelantarkan, akibatnya area hutan yang hilang lebih besar dari perkebunan yang menggantikan area tersebut. Praktek ini mengindikasikan bahwa mengkonversi area berhutan menjadi kebun sawit seringkali didorong karena nafsu untuk mendapatkan rente ekonomi dari kayu yang dipanen daripada keinginan serius untuk membangun perkebunan kelapa sawit.

Selengkapnya...

Tips Bijak Menggunakan Komputer Bagi Kesehatan Mata

by Helmi Fauziridwan | 0 komentar


Bagi Anda pengguna komputer aktif, tentunya pernah merasakan ketidaknyamanan pada mata setelah berjam-jam berada di hadapan layar monitor. Umumnya, gejala-gejala yang Anda alami adalah mata kering, mata merah, mata lelah dan lain-lain. Tahukah Anda bila hal tersebut dibiarkan, Anda akan merasakan gejala-gejala yang lebih parah, seperti mata terasa terbakar dan sakit disertai dengan sakit kepala. Hal pertama yang sebaiknya Anda lakukan adalah mengistirahatkan mata Anda. Berikut tips menggunakan komputer yang sehat dan aman bagi mata.



Tips bijak memakai komputer yang baik bagi kesehatan mata
  • Selalu gunakan filter screen untuk menghalau silau dan radiasi yang mungkin mengenai mata.
  • Posisi layar monitor sebaiknya tidak melebihi posisi pandangan lurus mata Anda.
  • Selalu memakai komputer dalam ruangan yang cukup terang. 
  • Menggunakan warna-warna gelap pada aplikasi komputer secara signifikan akan mengurangi silau.
  • Walaupun Anda tidak memiliki kelainan refraktif mata, sebaiknya gunakan kacamata komputer untuk menjaga mata Anda dari sinar radiasi.
  • Selalu mengistirahatkan mata setiap 30 menit sekali. Melihat-lihat tumbuhan hijau adalah salah satu cara me-refresh mata Anda. 
  • Sediakan beberapa pot kaktus di depan layar monitor. Kaktus dipercaya dapat menyerap radiasi.
  • Konsumsi buah-buahan dan sayuran-sayuran setiap hari.
  • Membiasakan diri mengkonsumsi teh tiap pagi dan sore hari.
  • Jika Anda berada dalam waktu yang lama di depan monitor, istirahatkanlah mata Anda setiap 2-3 jam sekali selama 10-15 menit. Anda bisa pergi keluar ruangan, arahkan mata Anda ke tempat yang jauh. Jika tidak memungkinkan, lihat objek yang jauh misalnya jam dinding. Ini sangat berguna untuk melenturkan kembali ura-urat mata sehingga dapat membuat mata Anda segar kembali.


Selengkapnya...

20 Tips Mencegah Pencuri Membongkar Rumah

by Helmi Fauziridwan | 0 komentar


Pencuri lebih khawatir ketahuan saat melakukan aksinya daripada mencari cara membongkar rumah yang menjadi targetnya. Selalu waspada terhadap kemungkinan pencurian. Berikut adalah 20 tips mencegah pencuri membongkar rumah.

1. Pastikan Anda memiliki kunci pintu dan jendela yang kuat, dan gunakan dengan hati-hati, bahkan saat Anda berada di rumah.
2. Jangan lupa mengunci pintu yang menghubungkan rumah menuju garasi Anda.
3. Jaga agar rumah Anda terlihat ditinggali. Selalu nyalakan lampu dalam ruangan saat malam hari.
3. Pastikan tempat-tempat gelap seperti sudut yang terhalangi bayangan pohon diterangi cahaya lampu.
4. Biarkan gorden atau kerai terbuka saat siang hari sehingga seakan-akan terlihat seseorang berada di dalam rumah. Sebaliknya, saat malam hari tutup gorden dan kerai.
5. Jangan tinggalkan dompet atau kartu kredit di tempat yang terlihat oleh orang lain melalui jendela atau pintu.
6. Berhati-hati saat memberitahukan orang lain bahwa Anda memiliki uang tunai atau barang berharga lainnya di rumah. Atau saat Anda membeli televisi, komputer atau laptop baru.
7. Potong rumput-rumput dan jaga pemandangan.
8. Potong dahan-dahan pohon dekat jendela untuk mencegah pencuri memanjat dan menggunakannya untuk bisa masuk ke dalam rumah.
9. Jangan simpan batu besar atau benda-benda berat lainnya di pekarangan Anda. Hal itu akan memudahkan pencuri masuk ke dalam rumah.
10. Jangan letakkan tangga di luar rumah.
11. Tutupi pintu dan jendela garasi agar pencuri tidak bisa melihat melihat ke dalam garasi. Pencuri pasti tahu bahwa garasi adalah sasaran empuk karena tidak berpenghuni.
12. Jangan menyimpan kunci ekstra di bawah keset pintu, pot kembang, atau tempat mencurigakan lainnya di luar pintu. Lebih baik dititipkan kepada tetangga yang bisa dipercaya.
13. Jangan melakukan aktivitas yang bisa diprediksi. Pencuri bisa mengetahui rutinitas Anda sehari-hari. Pencuri akan mengambil kesempatan saat Anda tidak ada di rumah.
14. Jangan meninggalkan catatan di depan pintu saat Anda pergi. Juga jangan mengabarkan kepergian Anda di email atau jejaring sosial.
15. Pasang lubang pengintip (peephole) pada pintu. Jangan membuka pintu sampai Anda tahu orang yang berkunjung.
16. Bila sudah membuat janji dengan perusahaan pengiriman atau servis. Mintalah identitasnya. Verifikasi apakah benar orang tersebut bekerja di perusahaan yang Anda maksud. Jangan menghubungi nomor dalam kartu identitas yang mungkin orang tersebut berikan, tapi cari di yellow pages nomor perusahaan yang bisa dipercaya.
17. Jangan pernah memberitahukan seseorang kalau Anda sendirian atau Anda akan pergi selama beberapa hari.
18. Gunakan sistem alarm untuk membuat pencuri enggan membongkar rumah Anda.
19. Jangan cantumkan nama anda di nomor rumah atau di luar rumah.
20. Kebanyakan pencuri masuk ke rumah lewat pintu depan atau belakang. Memasang lampu di sekitar pintu masuk dan membuat tempat-tempat di luar rumah Anda tetap terang adalah cara sederhana namun efektif mencegah pencuri membongkar rumah Anda.

Materi referensi: Internet

Selengkapnya...


Komentar Terbaru

Pedialicious

 

Bacaan Favorit | Dark Background Modified by Helmi Fauziridwan Best viewed with Firefox, Copyright © 2011-2014 LKart Theme is Designed by Lasantha